Cerita Singkat: Karena Senyummu adalah Pembahagiaku Nomor Satu.


Kamu ingat bagaimana Tuhan mempertemukan kita? Ya, kita di pertemukan oleh banyak kebetulan. Kebetulan yang seandainya tidak terjadi, kita takkan bertemu. Itu saat kita sama-sama sedang di hukum di ruang BK, kan? Padahal kita tidak sedang bersekongkol melakukan sesuatu, kita bukan teman, kita tidak di masalah yang sama. Kita di panggil membawa masalah masing-masing. Saking bahagia mengingatnya, kadang aku berandai-andai; seandainya saat itu aku datang lebih awal di sekolah, seandainya saat itu aku tidak melihat teman sekelasku yang di keroyok preman, aku tidak akan di fitnah oleh saksi yang langsung menyimpulkan spekulasinya dengan sekali lihat. Dia bilang aku melakukan hal tak senonoh dengan Gilang–teman sekelasku yang di keroyok preman–di depan umum, padahal jelas-jelas aku sedang menolongnya. Memeluknya untuk melindunginya dari pukulan preman-preman itu. Dan seandainya kamu tidak di hukum membersihkan toilet, seandainya kamu tidak salah masuk toilet, seandainya di dalam toilet wanita itu tidak ada siapa-siapa. Seandainya semua itu tidak terjadi, aku dan kamu mungkin takkan pernah bertemu.

Saat itu, di ruang BK, Bu Yeti menghujam kita dengan seribu kalimat pedasnya. Kamu marah saat penjelasan yang kamu jelaskan itu di nilai bohong oleh Bu Yeti. ‘buktinya apa?’ itu yang membuat aku dan kamu sama-sama membisu saat itu. Tapi kamu terus mengelak, berusaha membuat Bu Yeti percaya. Aku hanya terus menangis saat itu. Tiga jam lebih aku dan kamu ada di satu ruangan mencekam itu. Setelah tiga jam itu kita di persilahkan keluar, lantas aku dan kamu keluar berbarengan. Saat baru saja keluar, kamu langsung menendang tempat sampah yang ada di depan ruangan BK. Kamu sangat marah. Sedangkan aku, aku sudah terperenyak di sana, menangis sejadi-jadinya. Kemudian kamu ikut duduk di sampingku.

“kamu juga kan di fitnah, kenapa diem aja?” katamu geram.

Aku tak bisa bicara, sesenggukanku belum reda.

“ng-nggak bbb-bisa ng-ngomong” ucapku sambil sesenggukan.

Demi mendengar ucapan yang di bonusi sesenggukan itu kamu tertawa. Dari sini kita mulai berbagi cerita, kan? Dan sejak hari itu, hubungan kita semakin mengikat. Apapun tentangmu sudah menjadi rapalanku tiap detikku. Aku sudah tau banyak tentang kamu, Fa. Hingga suatu hari kamu memintaku untuk menemanimu melihat rembulan terang menderang di malam dingin saat itu. Aku terus bercerita dengan entengnya tanpa sadar dengan wajah serius milikmu yang nampak sedang terbebani. Lantas tiba-tiba kamu melontarkan kalimat ambigu yang tak ku pahami. Membersambungkan kisah ‘senang sendiri’ku.

“Ra” panggilmu lembut

“kamu nggak akan pergi kan?” tanyamu sambil menatap rembulan.

“Kamu nggak akan ninggalin aku kan? kamu bakal tetep di samping aku kan? kita bakal sama-sama terus kan? Jangan pergi ya Ra.” tambahmu sekaligus setelah melihat kernyitan di dahiku yang menafsirkan ‘maksudnya?’.

Pertanyaan yang semua jawabannya sudah pasti ‘iya’, lalu kenapa harus di tanya? Harusnya kamu sudah tau jawabannya kan Fa? Aku nggak akan pergi ninggalin kamu, akan selalu di samping kamu, akan selalu menjadi alasan kamu tersenyum, akan selalu menjadi pembahagiamu, akan selalu menjadi apapun yang kamu mau. Kamu tersenyum setelah aku menjawab semua pertanyaanmu. Senyum terindah yang kamu peruntukkan kepadaku, senyum terindah di bawah rembulan terterang di malam yang angin dinginnya menyayatku. Malam itu, kamu menghabiskan malam panjangmu bersamaku di atap rumahku. Kamu bercerita dengan gayaku di tiap aku bercerita kepadamu. Kamu bercerita sambil menatap rembulan. Malam itu entah mengapa aku berada di puncak bahagiaku.

Ini yang aku benci dari setiap kisah. Dimana ada pertemuan pasti ada perpisahan.

Rafa sudah pergi.

Meninggalkanku dengan kenangan-kenangan menyesakkan. Apanya yang ‘jangan pergi ya Ra’ sih Fa? Kenapa malah kamu yang pergi? Kamu bilang kamu akan terus di samping aku, kamu bilang kamu akan terus tersenyum demi aku yang selalu bahagia tiap kamu tersenyum. Kamu tau senyum kamu adalah pembahagiaku kan? Lantas kenapa kamu pergi? Perginya kamu itu sama aja kamu renggut bahagiaku Fa. Demi nggak liat kamu tersenyum, hidupku akan semenyedihkan apa lagi?

Malam itu ternyata adalah malam terakhirku bersama kamu Fa. Bahagia yang memuncak itu ternyata adalah ucapan selamat tinggalmu padaku. Kisah dari ceritamu itu ternyata adalah kisah halaman terakhirmu yang adalah penutup dari segala kisahmu. Senyum terindahmu itu juga ternyata adalah senyum perpisahanmu. Dan rembulan terterang malam itu adalah bonus dari pamitmu padaku.

Rafa, dengar. Sebagaimanapun manisnya kamu pamit, selamat tinggal tetap selamat tinggal Fa, tetap mengundang sembilu di dada. Caramu pamit itu sia-sia, kamu gagal membuatku sebahagia saat kita bertemu. Tapi ya memang, namanya juga pamit, harus menyisakan kenangan indah sebelum pergi, meski kenangan manisnya akan menjadi pahit saat di ingat. Tapi lihat, aku belum mengindahkan pamitmu menjadi kenangan manis Fa. Aku masih ingin kamu kembali, aku masih belum mengizinkanmu pergi, aku masih ingin bersamamu, aku masih ingin bercerita padamu, aku masih ingin melihat kamu tersenyum Fa. Kembalilah!

Tiga tahun sudah aku hidup tanpa kamu. Tiga tahun sudah aku hidup dalam ilusimu. Tiga tahun sudah aku hidup semenyedihkan ini Fa. Aku rindu kamu.

Ahh. Ini kah rasanya di tinggal pergi yang di cinta? Cinta memang tak pernah berjalan mulus. Ada beberapa fase terjal yang harus di lewati untuk mencapai bahagia.

Terimakasih Rafa,

Terimakasih telah pamit semanis malam itu.

Terimakasih untuk membuat hariku selalu bahagia.

Terimakasih untuk menjadi yang terus di sampingku.

Terimakasih untuk menjadi pendengar terbaik kedua di tiap cerita ‘senang sendiri’ku setelah Tuhan.

Terimakasih untuk mencintaiku.

Dan, Terimakasih untuk menjadi pembahagiaku lewat senyum indahmu.

Guratan puisi rinduku, akan selalu aku sampaikan lewat do’a dan tinta. Aku akan selalu bahagia. Ulasan senyum yang selalu diperuntukkan padaku, akan selalu menjadi pembahagiaku nomor satu. Meski kini hanya ilusi.


-Cirebon-

By: Tri Yuni Aldima
Maba Tadris IPS IAIN Syekh Nurjati Cirebon.


0 Response to "Cerita Singkat: Karena Senyummu adalah Pembahagiaku Nomor Satu."

Posting Komentar