Kamis, 25 Agustus 2016
Artikel
“AIR” JELMAAN “API”
Air dan api adalah sebagian ciptaan tuhan yang berlawanan. Mereka saling bermusuhan dan bahkan membinasahkan satu sama lain. Air bersifat kesejukan,kedinginan dan ketenangan. Ia mampu menyejukan tempat yang gersang. Ia mampu medinginkan keadaan yang membara. Dan mampu menenangkan lingkungan yang rancu. Namun sebaliknya, api yang memiliki sifat panas nan membara. Seakan kobaran baranya salah satu tanda ancaman dari berbagai sifatnya. Mungkin itu dari satu sisi saja kita memaknainya : dari sifat atau simbolnya. Padahal, hikmah dan manfaatnya jauh lebih banyak dan berguna dari masing-masing sifat mereka. Lantas bagaimana tatkala AIR menjelma jadi API ?.
Membahas tentang air dan api, Saya teringat petuah seorang kiyai sekaligus presiden RI yang ke-4, K.H. ABDURRAHMAN WAHID yang akrab dipanggil GUS DUR, kepada murid sekaligus teman dekatnya yang sekarang sudah menjadi tokoh agama yaitu K.H. MAMAN IMANULHAQ FAQIEH dalam bukunya ( fatwa dan canda Gus dur). Gus dur berkata lirih kepada kang maman “ Hidup ini ibarat air. Dan bangsa ini sedang merasakan air yang berubah wujud jadi api”.
Mungkin benar adanya atas apa yang dikatakan gusdur kepada kang maman. Dan kata-kata itu mengingatkan kepada seorang ulama termasyhur, Syekh Abu Yazid Al-Busthomi yang terkenal dengan ajarannya “SUBHANII” (maha suci aku). yang mengutip nabi khidir sang nabi tersembunyi, mengatakan “jika air sudah tidak dipakai untuk bersuci, maka air akan menjelma jadi api”.
Di negeri ini, air telah menjelma jadi api. Hal ini muncul pada berbagai fenomena bencana alam, terutama yang diakibatkan oleh faktor bencana air, yang menimpa bangsa ini. Seperti tsunami di aceh dan pangandaran, serta banjir bandang di berbagai pelosok negeri ini yang tak kunjung reda.
Untuk itu, kejadian fenomena bencana alam itu semua, kita jadikan sebuah ibroh (pelajaran) untuk lebih memperbaiki tindak penyucian (tazkiyyah). Baik penyucian inderawi (sensor), maupun maknawi (supra-sensor). Setidaknya Tazkiyyah ini kita lakukan dalam konteks dua hal. Pertama, (Tazkiyyatun al- Nufus al-Madzmumah) penyucian diri atau jiwa dari segala perbuatan busuk dan tercela, prinsip dan sikap hidup yang membinasahakan fitrah kemanusiaan, serta mata hati (sirrin) yang menatap pada sesuatu selain tuhan.
Yang kedua, penyucian indrawi, yaitu memiliki rasa kepedulian terhadap kebersihan dan kesucian , bersama membasuh anggota tubuh tertentu yang telah dititahkan dalam syara’, yang dalam ajaran islam itu disebut wudhu.
Negeri ini membutuhkan kader-kader para pengelola yang baik dan benar. Serta, mampu menjaga,melestarikan dan menghargai bumi pertiwi ini. Yang konon katanya bahwa bumi pertiwi ini disebut “tanah surga”. Yah, mungkin itu benar adanya karna kekayaan alam yg sangat melimpah dan beragam. Namun, berbeda dengan penduduk atau pengelolanya yang konon juga katanya bahwa “meski negeri ini memiliki sebutan tanah surga, tetapi penduduknya seakan penduduk neraka”.
Tjirebon, Senin 01 february 2016 (Andri Kohar, Tadris IPS smster 3)


0 Response to "“AIR” JELMAAN “API”"
Posting Komentar