Tepuk tangan dan sorak sorai penonton
membuat rasa gugupku sedikit menghilang. Kali ini aku dan sahabat sahabatku
yang tergabung dalam tim paduan suara, tampil di acara pelantikan sebuah organisasi
ektra yang cukup bergengsi di kampusku.
Kalimat tahmid menggaung terus melalui ucapanku setelah beberapa lagu telah
sukses kami nyanyikan. Selanjutnya adalah rangkaian acara ceremonial yang sudah tersusun sedemikian rupa .
Sesekali peserta bersorak sorai kembali Karena beberapa sambutan dari para
senior mereka yang bersemangat, akupun
merasakan desiran semangat itu.
Di sela-sela acara Hpku tiba-tiba berbunyi.
Kulihat ada satu pesan dari ayahku. Tak terasa air mataku menetes membaca pesan
singkat itu. Allah kembali membawaku dalam selimut RahmatNYA. Karena besok aku
harus memenuhi undangan bimbingan manasik haji di salah satu pondok pesantren di kotaku.
Kalimat talbiyah itu seakan menyelimutiku, terucap seiring dengan desahan
nafas. Sebentuk perasaan tiba-tiba menjelma dalam benaku, inilah awal dari
perjalananku. awal dari petualanganku yang menghantarkanku pada tempat semuanya
berawal. Tak sadar aku terlalu larut dan kuseka bulir air mata bahagia ini.
Ibadah haji adalah perjalanan spesial.
Tidak sama halnya dengan perjalanan liburan untuk mencari pantai atau matahari
dikala musim dingin. Hanya orang yang benar-benar “diundang” Allah yang bisa
mewujudkannya. Akupun sering mendengar sekelumit kisah dari sekian banyak grand design yang
Allah lukiskan. Berawal dari hidup yang berkekurangan namun tiba-tiba mendapat
rezeki untuk pergi berhaji, ada pula yang awalnya sakit sakitan lalu segar
bugar ketika menjalankan ibadah wukuf di arafah. Subhanallah.
Aku kembali larut. Bulir air mata yang
bertahan sekuat tenaga di sudut mataku akhirnya megalir deras ketika
kutundukkan kepala. Walaupun bangunan kubus berwarna hitam itu pernah kulihat
dimana-mana, di bingkai, lukisan, foto, sajadah dan siaran televisi. Bentuknya
demikian sederhana, namun bagiku itu benar-benar sempurna. Tak perlu
membentuknya sedemikian rupa dengan banyak warna. Hanya hitam dan kubus. Itupun
telah meluruhkan hati setiap muslim tuk senantiasa bersujud mengingat
Ke-Agungan Tuhannya.
Hitam adalah induk warna. Dia mampu
menyerap semua spektrum cahaya, meskipun sebenarnya hitam adalah akromatik ,
warna yang justru melambangkan ketiadaan warna. Budaya barat
mengidentifikasikan dengan kematian. Tapi bagiku itu adalah pencapaian puncak.
Sama halnya dalam seni bela diri, bukankah sabuk hitam adalah pencapaian paling tinggi? .
Dalam pencapaian akademikpun demikian, toga yang berwarna hitam akan menjadi
simbol kebanggaan. Sungguh hitam adalah puncak kesempurnaan.
Bentuk kubus juga adalah bangunan yang
paling aku sukai. Sebuah simbol keseimbangan. Karena titik sudut, garis rusuk
dan setiap sisinya teratur dan simetris dari arah manapun. Seperti islam yang
sederhana, namun sempurna dari segala sisi. Aku akui, di dunia ini siapa yang tak kenal dengan
Indonesia, sang zamrud khatulistiwa. Namun bayangan ka’bah dan masjidil haram
sedikit menyelimuti benakku saat ini. Kelak menyaksikan ratusan ribu manusia
berputar mengelilinginya, dalam kecepatan dan ritme yang sama, dengan
melafalkan kalimat-kalimat pujian yang sama untuk NYA. Hasbunallah wa ni’mal
wakiil ni’mal maula wa ni’mannasiir.
Terimakasih untuk semuanya Allah , grand
designMU sungguh tiada bandingannya. Akupun memohon agar saudara – saudara
muslim lainnya kaumudahkan langkahnya tuk memenuhi panggilanMU.

0 Response to "Gugupku Sedikit Menghilang"
Posting Komentar